BATANG – Produktivitas jagung di wilayah Kabupaten Batang terus ditingkatkan, agar bisa memenuhi kebutuhan yang cukup besar. Salah satunya dengan menerapkan sistem tanam rapat.

Ketua Departemen Advokasi dan Pemberdayaan Masyarakat pada Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka), Isnen Ambar Santosa mengatakan, jagung merupakan komoditas yang kebutuhannya sangat besar, namun produktivitasnya sangat rendah. Karenanya, dengan menerapkan sistem tanam rapat, bisa menaikkan produksi jagung hingga dua kali lipat.

“Sistem tanam rapat dengan perluasan yang sama hasilnya dua kali lipat populasinya. Jadi, rata-rata 60 ribu (ton) jadi 120 ribu (ton) yang tentunya produktivitasnya akan naik dua kali lipatnya,” terang dia.

Dijelaskan, berdasarkan riset yang telah dilakukan di Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Bawang, Dispaperta Batang. Sebanyak 89 batang jagung ditanam di demplot berukuran ubin 2,5 x 2,5 m dengan jarak tanam jajar legowo 100 x 12 x 12 cm. Hasilnya, berat hasil ubinan 15,71 kilogram, jumlah tongkol 91 buah, dan hasil panen per hektare mencapai 21,36 kg tongkol kering.

“Kalau dibandingkan dengan rata-rata nasional yang hanya 42 ton per hektare, di Kecamatan Bawang petani bisa tujuh ton per hektare. Sekarang dengan teknologi ini (bisa mencapai) 12,82 ton per hektare. Jadi naiknya lima ton,” paparnya.

Bupati Batang, Wihaji, menyampaikan, pihaknya melalui Dinas Pertanian menggenjot produktivitas jagung dalam rangka mengamankan kebutuhan ketersediaan, khususnya untuk industri dan pakan ternak. Saat ini, hasil panen jagung di seluruh wilayah Batang belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.

“Di Batang, produktivitas jagung pertahun hanya 70 ribu ton. Produktivitas jagung petani kita dengan kebutuhannya masih jauh. Sehingga, kita masih kekurangan beribu-ribu ton,” kata Wihaji usai panen raya jagung di Desa Getas, Kecamatan Bawang, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2020).

Apalagi, lanjut bupati, sudah ada satu pabrik pakan ternak di Kabupaten Batang. Bahkan, ada satu lagi pabrik pakan ternak yang akan didirikan sehingga tentunya membutuhkan ribuan ton jagung.

Untuk itu, bupati menginstruksikan para pengelola pabrik pakan ternak untuk ikut mendorong kesejahteraan para petani.

“Saya sudah tekankan kepada pengelola pabrik untuk membeli jagung hasil pertanian Batang dengan harga yang kompetitif,” kata Wihaji.

Ia pun meminta kepada Dinas Pertanian dan pihak perusahaan pakan ternak untuk bersinergi memberikan edukasi dengan teknologi pertaniannya, agar produktivitas jagung sesuai standar yang ditentukan.

“Dengan teori ilmu pertanian dan teknologi yang diedukasikan ke petani, saya kira siap dan mampu, sepanjang efektif, efisien, sederhana, dan dapat meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya. (hms/why)

BERI TANGGAPAN

Please enter your comment!
Please enter your name here