Desain ibu kota baru RI

SEMARANG – Presiden RI Joko Widodo berencana akan membuat ibu kota negara di Kalimantan Timur menjadi kawasan hijau, environmentally friendly dan tidak ada klaster industri. Gubernur Jateng Ganjar Pranowo ternyata mendukung rencana tersebut.

Ganjar menilai pusat pemerintahan memang tidak seharusnya dicampur dengan industri seperti di negara maju, contoh Washington sebagai ibu kota Amerika Serikat.

‘’Di banyak negara maju, pusat pemerintahan tidak dicampur dengan industri. New York itu kan sudah sangat padat, maka ibukotanya Washington. Washington itu sangat menarik, tenang. Bahkan pada pukul 09.00, pukul 10.00 itu sepi. Ibukota negara bisa seperti Washington,’’ kata Ganjar saat ditemui usai menjadi Inspektur Upacara Hari Bela Negara di halaman Kantor Gubernur, Kamis (19/12/2019).

Jika ibu kota negara dicampur dengan industri dinilai akan menjadi seperti Jakarta dahulu yang saat pertama kalinya menjadi tempat dagang. Di ibu kota negara baru itu, kata Ganjar, juga akan berdiri perguruan tinggi berkualifikasi internasional.

Sistem transportasinya pun tidak lagi menggunakan BBM, tetapi seluruhnya elektronik atau listrik. Kawasannya pun akan lebih hijau, ramah lingkungan, dan orang akan merasa segar dan nyaman.

‘’Dari daerah, kami mendukung upaya menjaga kawasan tetap hijau. Disana kan ada orang utan, biota yang harus dirawat. Mudah-mudahan sistemnya oleh tim dipersiapkan dengan baik,’’ harapnya.

Untuk diketahui, Presiden Joko Widodo berjanji membangun kebun bibit hingga memastikan tidak ada klaster industri, dan tidak ada pabrik di ibu kota baru yang ada di Penajam Paser Utara (PPU) dan Kutai Kartanegara. Lahan 56 ribu hektare disiapkan untuk kawasan inti, di mana 5.600 hektare dibangun klaster pemerintahan di PPU.

Jokowi ingin ibu kota negara yang baru di Kaltim berkonsep green city. Jokowi memerintahkan Menteri LHK Siti Nurbaya membangun kebun bibit seluas kurang lebih 100-an hektare.

Ibu Kota baru itu akan digodok melalui Badan Otorita yang segera dibentuk Jokowi. Badan Otorita Ibu Kota akan mengurus perpindahan ibu kota ke Kaltim yang dijadualkan akhir Desember 2019 atau awal Januari 2020. Untuk ibu kota baru itu, Jokowi juga akan melibatkan investor agar tak mengganggu keseimbangan APBN.

Biaya pembangunan ibu kota baru pun mencapai Rp 466 triliun. Dari biaya itu, APBN akan berkontribusi sebesar 19 persen. Anggaran Rp 466 triliun di antaranya akan digunakan untuk pembangunan sejumlah gedung. Pertama berkaitan dengan fungsi utama meliputi gedung legislatif, yudikatif dan eksekutif serta istana negara dan bangunan strategis TNI/Polri. (duh)

selamat hari raya nyepi

BERI TANGGAPAN

Please enter your comment!
Please enter your name here