SLAWI – Berbagai upaya dilakukan Pemerintah Kabupaten Tegal untuk mencegah penyebaran dan penularan Covid-19, tidak terkecuali pondok pesantren (ponpes) yang sudah mulai kegiatan pembelajaranya.

Kembalinya para santri ke ponpes, membuat pemkab mewajibkan semua pesantren menerapkan protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19, demi mewujudkan masyarakat yang produktif tetapi tetap aman.

“Protokol kesehatan harus diutamakan. Jadikan kebiasaan-kebiasaan baru sebagai budaya sehari-hari demi kesehatan santri, pengasuh, dan penghuni pesantren lainnya,” pinta Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Tegal Dessy Arifianto saat memimpin press conference evaluasi kebiasaan baru di lingkungan pondok pesantren, yang disiarkan secara langsung di kanal Youtube Pemkab Tegal, Kamis (30/7/2020).

Kepala Kantor Kemenag Sukarno menyampaikan terkait evaluasi adaptasi era tatanan baru di lingkungan pondok pesantren, pihaknya telah membentuk satuan Gugus Tugas di Lingkungan Kementerian Agama juga di sejumlah pondok pesantren yang bertujuan untuk mengantisipasi penyebaran pandemi Covid-19.

Dia menambahkan, menindaklanjuti Surat Edaran SKB 4 Menteri tentang Panduan Penyelenggaraan Tahun Ajaran 2020/2021, pihaknya juga telah membuat beberapa aturan terkait penyelenggaraan pendidikan santri di ponpes, dengan mengatur kedatangan santri agar datang secara bergelombang dan dijadwal per daerah. Kedatangan santri agar dilaporkan pada Gugus Tugas Kecamatan dan puskesmas terdekat.

“Orang tua/wali santri hanya diperbolehkan mengantar anaknya sampai pintu gerbang ponpes, dan dilarang masuk di area pondok. Pengantar dibatasi dua orang. Santri selama dalam pondok dilarang keluar dari area selama 14 hari, dan selama masa pandemi orang tua dilarang menjenguk anaknya,” jelas Soekarno.

Dia menegaskan, kegiatan pembelajaran di lingkungan pondok pesantren selama pandemi akan terus dimonitoring. Hal itu sebagai bentuk antisipasi dan kendali, serta evaluasi penyelenggaraan pendidikan keagamaan ponpes di era kebiasaan baru.

Pimpinan Pengasuh Ponpes Babakan KH Nasichun Isa Mufti menerangkan, kegiatan belajar di Ponpes Babakan sudah menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan mengedukasi tentang kesehatan. Di tempat itu juga dilakukan pengecekan kesehatan para santri yang melibatkan puskesmas setempat.

“Setiap tiga hari, petugas dari puskesmas datang untuk mengecek kondisi kesehatan penghuni ponpes. Jika ada yang tubuhnya di atas 37 derajat celcius akan langsung dipulangkan. Pembatasan tamu dilakukan terutama dari daerah zona merah. Kami juga menyediakan fasilitas cuci tangan di beberapa kamar santri, serta menggencarkan sosialisasi tentang pentingnya kebersihan diri dan lingkungan untuk kesehatan,” beber Isa. (hms/why)

DPRD Kota Semarang Dirgahayu Republik Indonesia ke 75

BERI TANGGAPAN

Please enter your comment!
Please enter your name here