JATENGEKSPOS.COM — Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang kembali menorehkan prestasi di bidang pemuliaan tanaman.
Dua calon varietas jagung hibrida hasil penelitian Tim Pemulia Jagung Fakultas Pertanian Unwahas, yakni UWH 2 dan UWH 4, dinyatakan lulus dalam Sidang Evaluasi dan Penilaian Calon Varietas Tanaman oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang berlangsung di Swiss-Belhotel Bogor, 19–22 Agustus 2026.
Kelulusan tersebut menjadi tahapan penting bagi kedua calon varietas untuk direkomendasikan dan selanjutnya dilepas sebagai varietas jagung hibrida unggul baru.
Tim Pemulia Jagung Fakultas Pertanian Unwahas dipimpin Dr. Heri Kustanto, S.P., M.P., dengan anggota Dr. Hilmi Arija Fachriyan, M.Si., Renan Subantoro, S.P., M.Sc., dan Lutfi Aris Sasongko, S.TP., M.Si.
Berdasarkan hasil pengujian, jagung hibrida UWH 2 memiliki sejumlah karakter unggul.
Varietas ini memiliki potensi hasil hingga 13,0 ton per hektar, tongkol berukuran besar dan berbentuk silindris, serta mampu menghasilkan tongkol dengan biji yang terisi penuh hingga ujung janggel atau dikenal dengan istilah muput.
Selain itu, UWH 2 memiliki warna biji yang menarik dan kandungan protein biji yang relatif tinggi, yakni mencapai 14,68 persen.
Sementara itu, UWH 4 memiliki potensi hasil mencapai 13,1 ton per hektar. Varietas ini dicirikan oleh tongkol berukuran besar, warna biji yang menarik, serta tanaman yang kokoh. UWH 4 juga memiliki keunggulan berupa ketahanan terhadap penyakit bulai yang disebabkan oleh Peronosclerospora maydis (P. maydis).
Ketua Tim Pemulia Jagung Fakultas Pertanian Unwahas, Dr. Heri Kustanto, mengatakan keberhasilan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi capaian akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi penguatan produksi jagung nasional.
Menurutnya, pelepasan UWH 2 dan UWH 4 diharapkan dapat mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat swasembada jagung. Peningkatan produksi, kata dia, idealnya juga diikuti dengan kemandirian sarana produksi pertanian, terutama penyediaan benih jagung unggul dari dalam negeri.
“Kemandirian produksi jagung seyogianya diikuti dengan kemandirian sarana produksi pertanian, termasuk benih jagung. Dengan demikian, peningkatan produksi tidak hanya berdampak pada ketahanan pangan, tetapi juga dapat mendorong iklim usaha dan membuka peluang kerja, khususnya di sektor perbenihan nasional,” ujar tim pemulia.
Lebih jauh, keberhasilan menghasilkan dua calon varietas tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan generasi muda Indonesia untuk terus mengembangkan kreativitas dan inovasi di bidang pertanian.
Tim pemulia berharap semakin banyak penelitian dan inovasi yang lahir dari perguruan tinggi dan anak bangsa sehingga mampu menghasilkan produk-produk unggulan yang dapat bersaing dengan produk luar negeri di pasar domestik.
“Semoga penemuan varietas ini dapat menginspirasi mahasiswa dan anak bangsa untuk terus tekun berkarya, berkreasi, dan menghasilkan penemuan-penemuan baru,” demikian harapan tim pemulia.
Terimakasih kepada Direktur Hilirisasi dan Kemitraan, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dan PT. Marm Maju Sejahtera sebagai mitra yang telah memberikan Bantuan Program Dana Padanan (Matching Fund) Tahun Anggaran 2025. sehingga penelitian dan pendaftaran kedua varietas jagung hibrida UWH 2 dan UWH 4 dapat dilakukan.
Pemulia juga berterima kasih kepada Ketua Yayasan Wahid Hasyim Semarang (Prof. Dr. KH. Noor Achmad, MA.), Rektor Universitas Wahid Hasyim (Prof. Dr. Ir. H. Helmy Purwanto, S.T., M.T., IPM.), Wakil Rektor 3 (Dr. Ratih Pratiwi, S.Pd., M.Si., MM.), yang telah berkenan mendukung dan mendampingi selama kegiatan berlangsung). Ketua LPPM (Dr. Agus Riyanto, S.IP., M.Si.), Dekan Faperta (Dr. Rossi Prabowo, S.Si., M.Si) dan segenap Civitas Akademia Universitas Wahid Hasyim.
Dengan hadirnya UWH 2 dan UWH 4, Unwahas menunjukkan kontribusinya dalam pengembangan varietas unggul nasional. Inovasi tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk mewujudkan Indonesia yang semakin kuat dalam kemandirian pangan, kemandirian benih, serta peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat.








