Hadapi Era Super AI, Menag Nasaruddin Umar Tekankan Konsep “Being the Quran”

A-AA+A++

JATENGEKSPOS.COM – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bakal membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Namun, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengingatkan kemajuan teknologi perlu berjalan beriringan dengan penguatan moral dan spiritual.

Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat memberikan Kuliah Subuh Bersama Menteri Agama RI di Masjid Walisongo, Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Ahad (20/9/2026).

Kegiatan tersebut diikuti pimpinan dan sivitas akademika UIN Walisongo Semarang serta santri Ma’had Al-Jami’ah. Rektor UIN Walisongo Semarang Prof. Dr. Musahadi turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Menag Soroti Era Super AI

Dalam tausiyahnya, Nasaruddin menyinggung perkembangan super artificial intelligence (AI) yang diperkirakan membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia.

Menurutnya, teknologi memang membuka peluang kemajuan. Namun, perkembangan kecerdasan buatan yang tidak diimbangi nilai moral dan spiritual berpotensi menghadirkan persoalan baru.

Karena itu, manusia tidak cukup hanya dibekali kemampuan menguasai teknologi. Karakter, nilai keagamaan dan landasan kemanusiaan juga perlu diperkuat.

“Di satu sisi, teknologi tersebut membuka peluang kemajuan,” kata Nasaruddin dalam kegiatan tersebut.

Ia kemudian mengajak mahasiswa dan santri UIN Walisongo memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an.

Bukan Sekadar Membaca Al-Qur’an

Nasaruddin menekankan bahwa kedekatan dengan Al-Qur’an tidak cukup diwujudkan melalui aktivitas membaca, menghafal maupun mempelajarinya.

Nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an, menurut dia, perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari dan tercermin melalui sikap serta perilaku.

Gagasan tersebut ia gambarkan melalui istilah “Being the Quran”.

“Jangan hanya living with the Quran, tetapi bagaimana kita bisa being the Quran,” pesan Nasaruddin.

Konsep tersebut menekankan bahwa nilai Al-Qur’an tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan dan cara manusia menjalani kehidupan.

Nasaruddin juga mengajak peserta merenungkan pesan Al-Qur’an yang menurutnya bermuara pada nilai ketuhanan dan kasih sayang. Ia menjelaskan pesan Al-Qur’an dapat dipahami secara berlapis hingga tercermin dalam Surah Al-Fatihah dan ayat pertama, Bismillahirrahmanirrahim.

Menag: Syukur Harus Dibuktikan dengan Tindakan

Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga mengingatkan pentingnya memaknai rasa syukur.

Menurutnya, syukur tidak cukup hanya diwujudkan melalui ucapan tahmid. Rasa syukur perlu dibuktikan melalui sikap dan tindakan dengan menggunakan setiap nikmat secara bertanggung jawab serta memberikan manfaat kepada sesama.

Pesan itu menjadi bagian dari ajakan agar generasi muda memiliki kemampuan akademik dan teknologi sekaligus karakter yang kuat.

Di tengah perkembangan AI, kemampuan manusia menguasai teknologi perlu berjalan bersama dengan nilai moral dan spiritual agar teknologi dapat digunakan secara bertanggung jawab.

Rangkaian kegiatan di UIN Walisongo kemudian dilanjutkan dengan penanaman pohon durian di lingkungan Masjid Walisongo, Kampus 3.

Nasaruddin bersama Rektor UIN Walisongo turut melakukan penanaman pohon tersebut.

Kegiatan ini menjadi bagian dari semangat ekoteologi, yakni pendekatan yang menghubungkan nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Dengan demikian, rangkaian kunjungan Menag di UIN Walisongo tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Al-Qur’an dan tantangan era AI, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan.

Pesan Nasaruddin tersebut menempatkan perkembangan teknologi dan penguatan nilai agama sebagai dua hal yang perlu berjalan beriringan. Di tengah kemajuan AI, manusia tetap dituntut menjaga karakter, tanggung jawab sosial, spiritualitas dan kepedulian terhadap alam.(rd)

Terkait Tag

Terkait Katagori