JATENGEKSPOS.COM – Rencana pembangunan kawasan komersial Pakuwon menjadi sorotan banyak pihak. Pasalnya, kawasan komersial yang digadang-gadang menjadi yang terbesar di Kota Semarang ini akan dibangun di atas lahan yang dinilai tanah gerak.
Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Penataan Ruang (Distaru) bersama tim Profesi Ahli Bangunan Gedung telah melakukan tinjauan lapagan pada area perbaikan Jalan Gombel lama serta rencana pembangunan kawasan komersial Pakuwon.
Kepala Distaru Kota Semarang, Ferry Kuntoaji menjelaskan pada koridor jalan Gombel Lama terdapat dua pekerjaan fisik yang posisinya berdampingan. Pekerjaan fisik tersebut adalah perbaikan jalan Gombel Lama yang merupakan jalan nasional yang saat ini sedang dilaksanakan perbaikannya oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah – DI Yogyakarta, yang merupakan unit kerja di bawah Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum.
Kemudian, secara bersamaan juga sedang berlangsung tahapan rencana pembangunan Kawasan Komersial Pakuwon yang berada pada sisi barat jalan Gombel Lama. Rencana pembangunan kawasan komersial Pakuwon tersebut saat ini pada tahap pematangan lahan yakni dengan perkuatan stabilitas tanah yang dilaksanakan oleh pihak Pakuwon.
“Jadi memang saat ini di Gombel Lama ada dua pekerjaan besar yakni perbaikan jalan Gombel Lama oleh pemerintah pusat dan pembagunan kawasan komersial Pakuwon di sisi barat jalan Gombel Lama,” ujar Ferry, Sabtu (6/6/2026).
Ferry mengatakan sinergi lintas instansi ini sengaja dilakukan secara bersamaan untuk persiapan lahan konstruksi komersial. Tujuannya agar manajemen drainase jalan raya seta rekayasa penguatan badan jalan nasional dapat ter integrasi secara sempurna dengan sistem proteksi lereng yang sedang dibangun di bawahnya.
Ferry mengatakan dalam dua tahun terakhir, kawasan gombel lama telah terpasang sensor inclinometer dan piezometer pada 20 titik pantau yang untuk mendeteksi pergerakan tanah serta mengukur muka air tanah dan tekanan fluida.
Sensor monitoring ini dipantau dan dianalisis secara ketat secara periodik dengan interval waktu setiap dua minggu sekali, sehingga deformasi sekecil apa pun pada lapisan tanah terdalam dapat langsung terdeteksi dan diantisipasi sejak dini sebelum memicu pergerakan yang lebih masif.
“Jadi yang sekarang dilaksanakan itu adalah proses pematangan lahan bukan proses pembangunan mall,” kata dia.
Tim Profesi Ahli Bangunan Gedung Prof. Dr. Ir. Bambang Setioko, M Eng menyampaikan dengan teknologi yang dikembangkan oleh Prof Paulus Pramono mengatakan, pergerakan tanah dapat diatasi dengan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi salah satunya yaitu pematangan lahan yang dilakukan dengan cara boring sehingga diperkirakan tidak mengganggu lingkungan dan publik setempat.
“Upaya ini dilakukan bertujuan untuk mengantisipasi pergerakan tanah yang sangat dikhawatirkan oleh publik, dengan adanya rencana pakuwon mall ini harapan kita bersama kota semarang sangat diuntungkan tidak hanya investasi terjadi namun juga terciptanya kesempatan kerja untuk masyarakat disekitarnya,” ujar Prof Bambang.
Sementara iut, Dr. T. Ir. Herry Ludiro Wahyono, ST MT, ahli struktur menyatakan bahwa ini adalah pematangan lahan yang merupakan upaya menghambat pergerakan tanah yang sudah diteliti oleh ahli geoteknik selama 2 tahun sehingga diperoleh kajian-kajian dan ditentukan agar tanah tetap stabil maka dibuat diding penahan 7 layer dengan metode borpile pada kedalaman 35-40 meter dengan diameter 1 – 1,2 meter.
Dari Hasil pengamatan tersebut, lanjutnya, didapati bahwa resiko pergerakan tanah terjadi pada saat hujan dimana air masuk kedalam tanah bertemu dengan lapisan clay shale dimana sifat fisiknya rentan terhadap air dan memicu terjadinya pergerakan tanah.
Hal ini yang membuat pada area ini tidak disarankan meresapkan air kedalam tanah, sehingga direkomendasikan perlu adanya peningkatan stabilitas tanah yaitu dengan pematangan lahan sebelum proses pembangunan dilaksanakan.
Kekhawatiran mengenai munculnya rambatan getaran makro akibat operasional alat berat penanam pile/tiang yang berpotensi mengganggu struktur batuan lereng dipastikan tidak terjadi, karena fokus seluruh aktivitas saat ini masih berada pada fase persiapan pengamanan lereng luar dan dilaksanakan dengan metode borpile.
Seluruh rangkaian pengerjaan alat berat yang terpantau di area perbukitan tersebut murni merupakan aktivitas teknis penyiapan lahan guna menanamkan struktur soldier pile. Konstruksi penahan mekanis ini dirancang secara khusus untuk menjalankan fungsi vital sebagai dinding penahan pergerakan lateral tanah.
Penanaman jajaran pile pengaman ini secara langsung bertindak sebagai sabuk penguat lereng, yang tidak hanya mengamankan batas internal tapak rencana pembangunan komersial, melainkan juga memberikan proteksi struktural bagi stabilitas lingkungan pemukiman penduduk serta infrastruktur publik di sekitar kawasan Gombel Lama.
Intervensi teknologi geoteknik tingkat tinggi di kawasan Gombel Lama ini didasarkan pada kesadaran penuh terhadap karakteristik geologis wilayah setempat.
Berdasarkan himpunan keterangan dari masyarakat sekitar serta catatan historis kewilayahan, area lereng perbukitan tersebut secara alamiah memang memiliki kecenderungan pergerakan tanah yang aktif dari waktu ke waktu.
Fenomena ini diperkuat oleh fakta bahwa sebagian besar bangunan tempat tinggal milik penduduk di sekitar lokasi proyek secara hampir setiap waktu harus melakukan renovasi mandiri guna memperbaiki kerusakan struktur bangunan akibat dampak pergeseran alami tanah di kawasan perbukitan tersebut.
“Harapannya kedepan pembangunan kawasan komersial pakuwon tidak hanya dapat menciptakan lapangan perkerjaan dan pertumbuhan ekonomi saja namun juga menciptakan keamanan lingkungan terhadap pergerakan tanah yang berdampak secara luas kepada daerah disekitarnya,” pungkasnya.









