BSI: Tantangan Bank Syariah Kini Bukan Lagi Literasi, tetapi Transformasi Digital

A-AA+A++

JATENGEKSPOS.COM – Industri perbankan syariah menghadapi tantangan baru di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Jika sebelumnya literasi keuangan syariah menjadi perhatian utama, kini fokus bergeser pada kemampuan menghadirkan layanan digital yang cepat, mudah, dan aman sesuai ekspektasi nasabah.

Senior Vice President Application Support Bank Syariah Indonesia (BSI), Rendy Ferdiansyah, mengatakan tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan perbankan syariah terus meningkat. Namun, di sisi lain, tuntutan terhadap kualitas layanan digital juga semakin tinggi.

“Nasabah saat ini menginginkan layanan yang cepat, mudah, aman, dan bisa diakses kapan saja. Karena itu, transformasi teknologi menjadi faktor penting untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperkuat daya saing bank syariah,” ujar Rendy dalam keterangannya, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, persaingan industri keuangan tidak lagi hanya datang dari bank konvensional, tetapi juga bank digital dan perusahaan teknologi finansial (fintech) yang menawarkan pengalaman layanan serba praktis.

Untuk menjawab tantangan tersebut, BSI melakukan modernisasi sistem inti perbankan (core banking) bersama Temenos. Langkah ini dilakukan guna memperkuat infrastruktur teknologi sekaligus mendukung pengembangan bisnis jangka panjang tanpa mengabaikan prinsip-prinsip syariah.

Modernisasi tersebut diyakini mampu meningkatkan kapasitas pemrosesan transaksi, mempercepat layanan kepada nasabah, serta membuka peluang menghadirkan berbagai inovasi digital di masa mendatang.

Rendy menambahkan, perubahan perilaku nasabah, terutama dari kalangan generasi muda dan digital native, turut mendorong percepatan transformasi digital di sektor perbankan syariah.

“Generasi muda mengharapkan layanan yang seamless, personal, dan selalu tersedia melalui perangkat digital. Mereka tidak hanya membandingkan layanan antarbank, tetapi juga dengan pengalaman menggunakan berbagai platform digital lainnya,” jelasnya.

Selain memperkuat sistem perbankan, BSI juga melihat perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas layanan. Teknologi AI dinilai dapat dimanfaatkan untuk memberikan layanan yang lebih personal, memperkuat sistem deteksi penipuan (fraud detection), mempercepat analisis data, hingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih akurat.

Menurut Rendy, pemanfaatan teknologi juga dapat memperluas inklusi keuangan syariah sehingga semakin banyak masyarakat memperoleh akses terhadap layanan perbankan yang modern, aman, dan tetap sesuai dengan prinsip syariah.

“Teknologi menjadi akselerator untuk memperluas layanan keuangan syariah sekaligus meningkatkan daya saing industri di tengah perubahan perilaku masyarakat yang semakin digital,” pungkasnya.(rd)