JATENGEKSPOS.COM – Jepang menghadapi paradoks demografi. Di tengah jumlah penduduk yang terus menurun, jumlah warga berusia 100 tahun ke atas justru mencatat peningkatan.
Kementerian Kesehatan Jepang mencatat sebanyak 107.677 orang berusia 100 tahun ke atas. Angka tersebut naik hampir 8.000 orang dibandingkan tahun sebelumnya.
Dengan jumlah tersebut, Jepang kini tercatat sebagai negara dengan penduduk berusia 100 tahun ke atas terbanyak di dunia, seperti dikutip dari The Independent UK, Jumat (18/9/2026).
Perempuan Mendominasi Warga Berusia 100 Tahun
Dari 107.677 warga berusia 100 tahun ke atas, sekitar 88 persen atau 94.298 orang merupakan perempuan.
Fuyo Kishimoto, perempuan berusia 114 tahun asal Kyoto, tercatat sebagai perempuan tertua di Jepang. Sementara itu, Hikaru Kato, pria berusia 112 tahun asal Kumamoto, merupakan pria tertua di negara tersebut.
Menteri Kesehatan Kenichiro Ueno menyambut peningkatan jumlah warga yang mencapai usia tersebut.
“Saya sangat senang melihat begitu banyak orang tetap aktif dan sehat dalam waktu yang begitu lama,” ujar Ueno.
Menurut Ueno, kondisi tersebut mencerminkan kemajuan di bidang kedokteran dan teknologi.
Dari 153 Orang Menjadi Lebih dari 107 Ribu
Jumlah warga Jepang berusia 100 tahun ke atas terus meningkat sejak pemerintah mulai melakukan pendataan 56 tahun lalu.
Saat survei pertama dilakukan pada 1963, hanya terdapat 153 orang berusia 100 tahun ke atas.
Jumlah tersebut kemudian melewati 1.000 orang pada 1981 dan menembus 10.000 orang pada 1998.
Data terbaru itu dirilis menjelang hari libur nasional “Penghormatan kepada Lansia”. Pada momentum tersebut, pemerintah Jepang mengirimkan surat pribadi dan cangkir sake tradisional kepada warga yang mencapai usia 100 tahun.
Umur Panjang di Tengah Populasi yang Menyusut
Peningkatan jumlah warga berusia 100 tahun ke atas berlangsung ketika populasi Jepang secara keseluruhan justru berada dalam tren penurunan.
Menurut Institut Nasional Penelitian Kependudukan dan Jaminan Sosial, populasi Jepang yang saat ini sekitar 123 juta jiwa diproyeksikan turun menjadi 87 juta jiwa pada 2070.
Angka tersebut berarti turun sekitar 30 persen dibandingkan puncak populasi yang mencapai 128 juta jiwa pada 2008.
Pada saat yang sama, tingkat kesuburan Jepang turun menjadi 1,14 pada tahun lalu. Angka tersebut berada jauh di bawah 2,1 yang diperlukan agar populasi dapat melakukan regenerasi secara alami.
Penduduk berusia 65 tahun ke atas kini mencapai sekitar 30 persen dari total populasi Jepang. Proporsi tersebut diperkirakan mendekati 40 persen pada 2070.
Pada 2025, penurunan populasi tercatat terjadi di 45 dari 47 prefektur Jepang, dengan laju penurunan yang semakin cepat.
Perdana Menteri Sanae Takichi menyebut kondisi penurunan demografis tersebut sebagai “darurat senyap”.
Berbagai subsidi dan program pemerintah untuk mendorong masyarakat memiliki lebih banyak anak sejauh ini belum berhasil meningkatkan angka kelahiran.
Para ahli mencatat sejumlah faktor yang berkaitan dengan kondisi tersebut, antara lain penurunan angka pernikahan, meningkatnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja, serta naiknya biaya membesarkan anak.(rd)








