JATENGEKSPOS.COM – Warga RW 15 kawasan pesisir Tambak Lorok mengembangkan inovasi pengolahan ikan dengan memanfaatkan energi terbarukan. Melalui dukungan program PLN Peduli Lingkungan, masyarakat mengembangkan mesin pengering sekaligus pengasap ikan yang menggunakan solar panel dan pembangkit listrik tenaga angin.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Cantik Bahari. Selain menjadi wadah pemberdayaan perempuan, KWT ini juga menjadi bagian dari penguatan UMKM dan pengolahan potensi pangan lokal masyarakat.
Mesin pengering dan pengasap ikan ditempatkan di kawasan green house yang telah dibangun sejak 2022. Teknologi tersebut memungkinkan proses pengeringan dan pengasapan dilakukan dalam satu siklus.
Pengelola KWT Cantik Bahari mengatakan penggunaan mesin tersebut membuat proses pengolahan ikan lebih higienis sekaligus lebih ramah lingkungan.
“Keunggulan inovasi ini dibandingkan sistem konvensional, pertama lebih higienis karena tidak ada serangga yang bertebaran di sekitar ikan. Kedua lebih ramah lingkungan karena dari sisi emisi hanya sedikit asap yang keluar dan asap lebih terfokus di dalam mesin,” jelasnya.
Manfaatkan Energi Surya dan Angin
Mesin tersebut memanfaatkan sumber energi baru terbarukan berupa solar panel dan pembangkit listrik tenaga angin. Energi yang dihasilkan digunakan untuk mengoperasikan mesin sekaligus mendukung penerangan di area green house.
Pengembangan mesin dimulai pada awal 2026. Setelah melalui sejumlah tahap uji coba, mesin kemudian selesai dan dipasang di kawasan green house untuk dimanfaatkan masyarakat.
“Mesin ini baru mulai kami kembangkan pada awal tahun. Setelah berkali-kali uji coba, sekitar dua bulan lalu sudah jadi dan bisa diinstal di sini. Alhamdulillah sudah dimanfaatkan masyarakat dan hasilnya tidak kalah dengan produk yang ada di pasaran,” katanya.
Inovasi tersebut tidak hanya menyentuh aspek teknologi. KWT Cantik Bahari juga bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk mengkaji produk olahan ikan yang dihasilkan.
Kajian tersebut mencakup kondisi fisik, kadar air, nilai gizi hingga daya simpan produk.
Upaya itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas sekaligus nilai ekonomi hasil tangkapan nelayan. Ikan yang sebelumnya dijual dalam kondisi segar dapat diolah menjadi ikan kering maupun ikan asap.
KWT Cantik Bahari Jadi Wadah UMKM
Ketua KWT Cantik Bahari sekaligus Ketua PKK RW 15, Sri Wahyuni, mengatakan kelompok tersebut juga berperan sebagai wadah edukasi masyarakat, termasuk dalam pencegahan stunting.
Dalam perkembangannya, KWT Cantik Bahari turut menjadi wadah penguatan UMKM di RW 15.
Produk yang dikembangkan masyarakat cukup beragam, mulai makanan ringan, makanan berat, sambal, telur asin hingga minuman berbahan tanaman lokal.
Salah satu produk yang dikembangkan adalah telur asin menggunakan telur ayam omega 3. Warga juga memproduksi teh rosella dan berbagai jenis sambal.
“Ini menjadi wadah UMKM di wilayah RW 15. Produk yang dikembangkan beragam, mulai makanan ringan, makanan berat, sampai produk olahan lainnya,” ujar Sri Wahyuni.
Manajer Administrasi PT PLN Indonesia Power UPB Semarang Eva Wirabuana mengatakan berbagai inovasi di RW 15 menunjukkan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan bersama dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Menurutnya, program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi wilayah secara mandiri dan berkelanjutan.
“Harapannya, hal kecil yang dikembangkan di sini dapat menjadi inspirasi dan dikembangkan di tempat-tempat lain,” ungkap Eva.
Selain KWT Cantik Bahari, pemberdayaan masyarakat di RW 15 diperkuat melalui gerakan RW 15 Hebat. Sejumlah kelompok yang terlibat antara lain KSM Bahari, Bank Sampah Pesona Bahari, Srikandi Cipta Bahari, Satgas Tangguh Bahari dan Pondok Belajar Terang Bahari.
Kelompok-kelompok tersebut memiliki peran masing-masing, mulai pengelolaan lingkungan, pemberdayaan perempuan, pendidikan, peningkatan kapasitas hingga penguatan ketangguhan masyarakat.
Pengelolaan lingkungan juga dilakukan melalui pemanfaatan bahan-bahan ramah lingkungan, termasuk pengembangan ekoenzim untuk kebutuhan rumah tangga.
RW 15 Disiapkan Menuju Kampung Wisata Bahari
Berbagai kegiatan tersebut selanjutnya diarahkan untuk mengembangkan RW 15 menjadi kampung wisata bahari.
Dalam konsep tersebut, masyarakat ditempatkan sebagai pelaku utama pengembangan kawasan. Potensi yang dimiliki warga dapat terhubung dengan aktivitas wisata, mulai kehidupan masyarakat pesisir, pengolahan hasil tangkapan nelayan, produk UMKM, pengelolaan lingkungan hingga pemanfaatan energi terbarukan.
Dengan demikian, berbagai inisiatif yang telah berjalan mulai dari green house, pengolahan hasil laut, UMKM, bank sampah hingga energi terbarukan dapat terintegrasi dalam satu ekosistem pemberdayaan masyarakat pesisir.
Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperkuat kemandirian dan produktivitas warga RW 15 sekaligus tetap menjaga keberlanjutan lingkungan.(rd)










