JATENGEKSPOS.COM — Sebuah harapan besar kini sedang tumbuh di tengah masyarakat kota Semarang. KH Sholeh Darat, ulama besar yang dikenal sebagai guru dari sejumlah tokoh penting bangsa, kini semakin dekat dengan kemungkinan memperoleh gelar Pahlawan Nasional.
Sejumlah tokoh yang pernah berguru dan memperoleh pengaruh intelektual dari KH Sholeh Darat, seperti KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, dan R.A. Kartini, telah lebih dahulu memperoleh pengakuan sebagai Pahlawan Nasional. Sementara itu, sang guru hingga kini masih menantikan penghargaan serupa dari negara.
Pengusulan KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional kini disebut telah melewati berbagai tahapan penting, mulai dari tingkat Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, hingga pengkajian di tingkat pusat.
Saat ini, usulan tersebut dilaporkan telah memasuki tahapan pertimbangan Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, sebelum keputusan akhir ditetapkan oleh Presiden Republik Indonesia.
Perkembangan tersebut disampaikan Penasihat Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Bidang Pelestarian Sejarah dan Pengembangan Budaya Kemaritiman,
Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum., yang juga Ketua Tim Penyusun Naskah Akademik Pengusulan KH Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional,
“Mengenai perkembangan terbaru proses pengusulan tersebut tinggal selangkah lagi KH Soleh Darat ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional” ujar Singgih di Jakarta (jumat, 6/11).
Menurut penjelasan Prof. Singgih, pengusulan KH Sholeh Darat bukanlah gagasan yang muncul secara tiba-tiba. Inisiatif ini berawal dari aspirasi berbagai kelompok masyarakat Semarang yang menghendaki agar jasa besar ulama tersebut memperoleh pengakuan yang layak dari negara.
Aspirasi masyarakat kemudian disampaikan kepada Wali Kota Semarang, Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti, yang menindaklanjutinya melalui pembentukan tim ahli untuk menyusun naskah akademik sebagai landasan pengusulan.
Langkah tersebut menunjukkan adanya sinergi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan kalangan akademisi dalam memperjuangkan pengakuan terhadap tokoh yang memiliki kontribusi penting dalam sejarah Indonesia.
Singgih mengungkapkan, sejak awal tim berkomitmen untuk membangun argumentasi pengusulan berdasarkan penelitian sejarah yang serius, bukan sekadar penghormatan terhadap kebesaran nama seorang ulama.
Naskah Akademik Disusun Sangat Serius, Bahkan Sebanding dengan Disertasi.
Salah satu kekuatan utama pengusulan KH Sholeh Darat terletak pada kedalaman kajian akademiknya.
Tim penyusun melibatkan para sejarawan dan peneliti dengan berbagai keahlian, termasuk sejarah Islam, sejarah Jawa, sejarah maritim, sejarah Kota Semarang, serta pakar pemikiran dan karya-karya monumental KH Sholeh Darat.
Bahkan, seorang pakar sejarah Islam yang berdomisili di Belanda, Dr. Suryadi, turut dilibatkan untuk memperkuat penelusuran sumber-sumber sejarah, khususnya dokumen dan arsip yang tersimpan di luar negeri.
Kajian tersebut tidak berhenti pada penelitian pustaka. Hasilnya juga dibahas secara kritis melalui seminar nasional dan internasional dengan menghadirkan berbagai ahli yang kompeten. Masukan dari forum-forum ilmiah itu kemudian digunakan untuk menyempurnakan naskah akademik.
Menurut Singgih, kedalaman penelitian, keluasan sumber, serta proses pengujian ilmiah yang dilakukan menjadikan naskah akademik tersebut memiliki bobot yang dapat dibandingkan dengan sebuah disertasi, bahkan dalam beberapa aspek memiliki cakupan penelitian yang lebih luas.
“Pengusulan KH Sholeh Darat tidak hanya bertumpu pada ketokohan dan penghormatan masyarakat, tetapi juga didukung oleh argumentasi historis yang telah dikaji secara mendalam” jelas Singgih.
Salah satu aspek paling penting dari ketokohan KH Sholeh Darat adalah pengaruhnya terhadap generasi intelektual dan tokoh-tokoh besar Indonesia. KH Sholeh Darat dikenal sebagai guru KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dan KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.
Beliau juga memiliki hubungan intelektual yang penting dengan R.A. Kartini, khususnya dalam membuka pemahaman terhadap ajaran Al-Qur’an. Ketiga tokoh tersebut telah memperoleh gelar Pahlawan Nasional.
Kenyataan ini menghadirkan sebuah pertanyaan historis yang patut direnungkan: ketika para murid dan tokoh yang memperoleh pengaruh dari pemikirannya telah memperoleh penghargaan tertinggi dari negara, bukankah kontribusi sang guru juga layak mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh?
Tentu saja, gelar Pahlawan Nasional tidak diberikan semata-mata karena seseorang menjadi guru dari para pahlawan. Namun, hubungan intelektual tersebut menunjukkan betapa luas dan mendalamnya pengaruh KH Sholeh Darat terhadap perkembangan pemikiran Islam dan generasi yang kemudian memainkan peranan penting dalam sejarah kebangsaan Indonesia.
Terlebih lagi, kontribusi KH Sholeh Darat tidak terbatas pada pendidikan para tokoh besar. Melalui karya-karya keislamannya dalam bahasa Jawa, beliau berperan penting dalam mendekatkan pengetahuan agama kepada masyarakat luas.
Dalam konteks masyarakat Jawa pada masa kolonial, aktivitas intelektual tersebut memiliki arti penting bagi perkembangan pendidikan, kesadaran keagamaan, dan kehidupan sosial masyarakat.
Dengan demikian, KH Sholeh Darat bukan sekadar ulama besar Semarang, melainkan bagian penting dari sejarah intelektual dan pembentukan kesadaran masyarakat yang menjadi salah satu fondasi kebangkitan bangsa.
Singgih mengungkapkan pengusulan KH Sholeh Darat telah melewati proses penilaian di tingkat Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Kota Semarang, tingkat Provinsi Jawa Tengah, serta pengkajian di tingkat pusat melalui Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP).
Saat ini, pengusulan tersebut dilaporkan telah memasuki tahap pertimbangan Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Meskipun keputusan akhir sepenuhnya merupakan kewenangan Presiden Republik Indonesia, keberhasilan melewati berbagai tahapan tersebut menjadi perkembangan penting yang membangkitkan optimisme masyarakat kota Semarang.
Perjalanan panjang ini sekaligus memperlihatkan bahwa pengusulan KH Sholeh Darat telah dilakukan melalui mekanisme yang serius, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut Presiden Prabowo telah menentukan 18 tokoh yang akan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional 2026, Jumat (6/11). Singgih berharap satu diantaranya adalah KH Soleh Darat.(rd)








