Konsumsi Ikan Tembus 44 Ton, Dinas Perikanan Kota Semarang Kembangkan Budidaya di Lahan Sempit

A-AA+A++

JATENGESKPOS.COM – Semarang Urban Fishery Integrated Smart and Holistic (Sunfish) menjadi upaya Dinas Perikanan Kota Semarang untuk mengembangkan budidaya ikan lele dan nila di lahan sempit. Langkah ini dilakukan seiring tingginya angka konsumsi ikan di Ibu Kota Jawa Tengah.

Dari data yang ada, angka konsumsi ikan di Ibu Kota Jateng mencapai 44 Ton, sementara hasil produksi ikan hanya diangka 7,2 ton. Sehingga kekurangannya didatangkan dari daerah lain.

Kepala Dinas Perikanan Kota Semarang, Soenarto, mengatakan produksi perikanan budidaya di Kota Semarang saat ini masih jauh di bawah tingkat konsumsi masyarakat. Angka ini menjadi tantangan bagi Dinas Perikanan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi ikan.

“Jadi tahun 2025 kemarin itu hasil produksi ikan di Kota Semarang hanya 7,2 ton. Tetapi kebutuhan yang dikonsumsi oleh warga ternyata mencapai 44 ton,” kata Soenarto, Jumat (31/7/2026).

Kekurangan jumlah produksi ini menjadi pekerjaan rumah bagi Dinas, sehingga dikau upaya peningkatan.

Masalahnya lahan di pesisir Semarang, mengalami kendala karena penurunan permukaan tanah sehingga area pertambakan hilang terkena rob.

“Kendalanya adalah penurunan muka tanah yang membuat area pertambakan rusak dan tidak lagi bisa digunakan tempat budidaya,” tuturnya.

Dengan situasi seperti itu, Dinas Perikanan mencari solusi lain yakni mengembangkan konsep perikanan perkotaan dengan memanfaatkan lahan terbatas di kawasan permukiman.

Program Sunfish akan mengedepankan budidaya ikan konsumsi, terutama lele dan nila, yang dinilai cocok dikembangkan di area lahan yang sempit.

“Walaupun tidak ada lahan yang cukup luas, bagaimana lahan-lahan sempit di perkotaan tetap bisa didorong untuk budidaya perikanan. Salah satu branding-nya nanti adalah lele dan nila,” ucapnya.

Dalam program tersebut, Dinas Perikanan juga membentuk Kampung Buleni atau Kampung Budidaya Lele dan Nila.

Selain itu, Balai Benih Ikan (BBI) akan dikembangkan menjadi pusat edukasi yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk belajar teknik budidaya ikan.

“Tak hanya menyasar peningkatan produksi, program Sunfish juga dirancang untuk menarik minat generasi muda,” jelasnya.

Dari data yang ada di Dinas Perikanan, mayoritas pembudi daya saat ini berusia di atas 45 tahun sehingga diperlukan regenerasi pelaku usaha perikanan.

Sebagai percontohan, Dinas Perikanan telah membentuk Kampung Buleni Siroto di Kecamatan Gunungpati.

Kawasan tersebut dirancang sebagai sentra perikanan terpadu dari hulu hingga hilir, mulai dari pemijahan, pembesaran, pengolahan hasil hingga pemasaran produk perikanan.

“Kami ingin generasi muda tertarik ke sektor perikanan. Selama ini ada anggapan perikanan itu susah dan kotor. Karena itu kami tambahkan sentuhan teknologi seperti pemberian pakan otomatis melalui IoT dan AI agar lebih menarik,” tandasnya.