JATENGEKSPOS.COM – Meningkatnya jumlah masyarakat berusia di atas 40 tahun turut mendorong pertumbuhan pasar lensa progresif di Indonesia. Namun, masih banyak pengguna yang mengalami kesulitan beradaptasi sehingga edukasi mengenai pemilihan dan penggunaan lensa dinilai menjadi faktor penting.
Memasuki usia 40 tahun, sebagian besar orang mulai mengalami presbiopia atau penurunan kemampuan melihat objek pada jarak dekat. Kondisi tersebut membuat kebutuhan akan lensa progresif semakin meningkat karena mampu mengoreksi penglihatan jarak jauh, menengah, dan dekat dalam satu kacamata.
Dokter spesialis mata Amanda Nur Shinta Pertiwi mengatakan, keluhan yang paling sering disampaikan pasien bukan berasal dari teknologi lensa progresif itu sendiri, melainkan karena proses pengukuran dan pemilihan lensa yang kurang tepat.
“Banyak pasien merasa tidak nyaman menggunakan lensa progresif. Padahal kenyamanan sangat dipengaruhi oleh ketepatan pengukuran, kualitas desain lensa, serta kesesuaiannya dengan kebutuhan visual pengguna,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Menurut Amanda, konsultasi dengan tenaga profesional sebelum membeli kacamata menjadi langkah penting agar pengguna memperoleh lensa yang sesuai dengan aktivitas sehari-hari. Dengan pemeriksaan yang tepat, masa adaptasi umumnya berlangsung lebih cepat dan nyaman.
Ia menjelaskan, tidak semua lensa progresif memiliki karakteristik yang sama. Produk dengan desain yang kurang presisi biasanya memiliki area pandang yang lebih sempit sehingga pengguna harus lebih sering menggerakkan kepala untuk mendapatkan fokus penglihatan.
Sebaliknya, lensa dengan teknologi yang lebih modern menawarkan transisi penglihatan yang lebih halus dan area pandang yang lebih luas sehingga aktivitas sehari-hari terasa lebih nyaman.
Kebutuhan lensa juga berbeda pada setiap orang. Pengguna yang lebih banyak bekerja di depan komputer memerlukan area penglihatan jarak dekat dan menengah yang lebih lebar, sedangkan mereka yang lebih sering beraktivitas di luar ruangan membutuhkan distribusi fokus yang berbeda.
Karena itu, pemilihan lensa tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga harus disesuaikan dengan gaya hidup dan kebutuhan visual masing-masing pengguna.
Dari sisi industri, teknologi lensa progresif memang memiliki proses produksi yang lebih kompleks dibandingkan lensa biasa karena menggabungkan beberapa zona fokus dalam satu lensa dengan tingkat presisi tinggi.
Produsen lensa seperti HOYA Vision Care pun terus mengembangkan teknologi personalisasi agar desain lensa dapat disesuaikan dengan kebiasaan dan kebutuhan visual setiap pengguna. Selain itu, kualitas lapisan pelindung (coating) juga menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap kejernihan, ketahanan, dan kenyamanan saat digunakan.
Pelaku industri menilai peningkatan edukasi kepada masyarakat mengenai manfaat, teknologi, dan cara memilih lensa progresif menjadi langkah penting untuk mengurangi kesalahan persepsi sekaligus mendukung pertumbuhan industri optik di Indonesia.(rd)











