JATENGEKSPOS.COM – Kawasan industri di Semarang semakin menjadi incaran investor yang ingin mengembangkan pabrik dan fasilitas produksi. Harga lahan yang masih kompetitif, didukung infrastruktur yang terus berkembang, menjadikan ibu kota Jawa Tengah tersebut sebagai salah satu tujuan investasi industri paling menarik di Pulau Jawa.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto, mengatakan Semarang memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan kawasan industri di wilayah barat maupun timur Jawa.
Salah satu faktor utamanya adalah harga lahan yang masih relatif terjangkau, namun memiliki tingkat kenaikan nilai yang cukup tinggi.
“Secara harga memang awalnya lebih rendah, tetapi persentase kenaikan per tahunnya jauh lebih besar dibandingkan Greater Jakarta maupun Surabaya,” ujar Ferry dalam Virtual Media Briefing Q2, Rabu (8/7/2026).
Saat ini harga lahan industri di Semarang berkisar antara Rp1,5 juta hingga Rp5 juta per meter persegi. Sebagai perbandingan, harga lahan industri di Surabaya berada di kisaran Rp1,5 juta hingga Rp6,5 juta per meter persegi, sedangkan di Jakarta mencapai Rp2 juta hingga Rp6,5 juta per meter persegi.
Dalam satu tahun terakhir, harga lahan industri di Semarang meningkat sekitar 8 persen, lebih tinggi dibandingkan Jakarta dan Surabaya yang cenderung stabil.
Kota Semarang sendiri memiliki tiga kawasan industri utama, yakni Kawasan Industri Wijaya Kusuma, Kawasan Industri Candi, dan BSB Industrial Park. Harga lahan tertinggi di kawasan tersebut kini telah mencapai Rp5 juta per meter persegi.
Sementara itu, kawasan penyangga seperti Kabupaten Kendal berada di kisaran Rp2,2 juta per meter persegi, sedangkan Batang dan Demak sekitar Rp2 juta per meter persegi.
Pasokan Lahan Masih Besar
Selain harga yang kompetitif, Semarang juga memiliki ketersediaan lahan industri yang cukup luas. Total pasokan lahan industri saat ini mencapai sekitar 4.100 hektare dan masih berpotensi bertambah hingga 2.700 hektare sampai tahun 2030.
Dalam tiga tahun terakhir, sekitar 120 hektare lahan industri telah terserap pasar. Penjualan terbesar tercatat di Kabupaten Batang, disusul Kabupaten Kendal, Kota Semarang, dan Kabupaten Demak.
Menariknya, sektor industri yang masuk kini semakin beragam. Tidak hanya didominasi industri padat karya, tetapi juga mencakup sektor manufaktur, farmasi, elektronik, hingga pusat data (data center).
“Semakin beragam sektor industri yang masuk, maka daya tahan kawasan industri terhadap perubahan ekonomi global juga akan semakin kuat,” kata Ferry.
Didukung Infrastruktur dan Tenaga Kerja
Ferry menambahkan, daya tarik Semarang juga didukung oleh upah minimum yang relatif kompetitif serta ketersediaan tenaga kerja produktif dalam jumlah besar.
Di sisi lain, pengembangan infrastruktur kawasan industri terus dilakukan oleh para pengembang, mulai dari peningkatan akses jalan, utilitas, hingga fasilitas pendukung operasional industri.
Dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap investasi juga dinilai menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan kawasan industri.
“Harga yang kompetitif memang menjadi daya tarik awal, tetapi yang paling menentukan adalah kualitas infrastruktur serta ekosistem kawasan industri yang mampu mendukung operasional perusahaan,” jelasnya.
Dengan kombinasi harga lahan yang kompetitif, ketersediaan tenaga kerja, serta infrastruktur yang terus berkembang, Semarang dinilai semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu koridor industri paling kompetitif di Pulau Jawa dan diproyeksikan terus menjadi tujuan investasi dalam beberapa tahun ke depan.(rd)











