Tinjau Sekolah Rakyat, Ini yang Jadi Sorotan Komisi D DPRD Kota Semarang

A-AA+A++

JATENGEKSPOS.COM – Komisi D DPRD Kota Semarang melakukan kunjungan ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 di Rowosari, Kecamatan Tembalang Kota Semarang untuk meninjau fasilitas dan jalannya program Sekolah Rakyat di Semarang.

Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Mualim menyampaikan apresiasi tinggi kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, atas hadirnya program fasilitas pendidikan gratis bagi masyarakat kurang mampu ini.

“Pertama, kami dari rombongan Komisi D DPRD Kota Semarang mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto yang sudah memberikan fasilitas ataupun Sekolah Rakyat di Jawa Tengah, khususnya di Kota Semarang. Ini benar-benar mengentaskan buta huruf dan memberikan kesempatan nyata bagi rakyat untuk bersekolah,” kata Mualim.

Ia mengatakan, program ini sangat luar biasa karena membebaskan seluruh biaya hidup dan pendidikan siswa secara total. Anak-anak yang tidak mampu dibiayai penuh oleh negara, mulai dari fasilitas asrama, kelas, konsumsi bergizi, hingga jaminan penyaluran kerja setelah lulus nanti.

Kendati memberikan apresiasi besar terhadap sarana prasarana asrama dan kelas yang dinilai sudah sangat baik, Mualim menekankan beberapa catatan kritis yang harus segera dikoordinasikan dengan pihak kementerian dan dinas terkait selagi jumlah siswa masih sedikit.

Dirinya melihat meja dan kursi siswa dinilai memang sudah layak, namun pihaknya menyarankan agar ruang kelas juga dilengkapi dengan proyektor. Regulasi bantuan ini perlu dirumuskan, apakah bisa difasilitasi oleh Pemerintah Kota Semarang atau harus dari pemerintah pusat.

Kemudian, terkait dengan jumlah siswa yang mencapai 270 siswa untuk semua jenjang yakni 90 siswa jenjang SD, 90 siswa jenjang SMP dan 90 siswa jenjang SMA, saat ini hanya ditunjang sekitar 20 orang guru. Dewan meminta kepala sekolah segera berkoordinasi dengan Kementerian Sosial atau Pemerintah Kota Semarang untuk melakukan penambahan guru dan pembina asrama.

“Yang tak kalah penting juga perlu disiapkan tenaga psikolog pendamping, mengingat latar belakang anak didik yang mayoritas merupakan yatim, piatu, atau dari keluarga sangat tidak mampu, penyesuaian mental di lingkungan baru (asrama) menjadi tantangan besar,” paparnya.

Dalam tinjauannya, Mualim sempat menyaksikan langsung bagaimana aspek psikologis sangat memengaruhi kenyamanan anak-anak asrama di awal masa sekolah ini.

“Tadi kami melihat ada siswa yang menangis saat makan bersama. Bukan karena makanannya kurang enak atau kurang bergizi, tetapi karena dia rindu rumah dan terharu. Dia makan enak di sini, lalu teringat adik atau ibunya di rumah apakah sudah makan atau belum,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, menurutnya kehadiran psikolog asrama sangatlah penting guna menggali kondisi mental anak. Selain itu, pemberian stimulan bantuan bagi orang tua murid yang berada di rumah juga krusial agar terjadi keseimbangan kesejahteraan antara anak di sekolah dan keluarga yang ditinggalkan.

Mualim menegaskan komitmen legislatif untuk terus mengawal isu ini bersama Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, dan Wali Kota Semarang agar pemenuhan guru, termasuk penempatan guru PPPK dan sarana pendukung lainnya dapat segera terealisasi dengan cepat.

“Harapan kami, hak pendidikan yang setara benar-benar terwujud. Sekolah ini menjadi bukti nyata bahwa tidak hanya anak dari kalangan menengah ke atas saja yang bisa bersekolah dengan layak, namun anak-anak yang kurang mampu pun memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk menggapai cita-cita mereka,” tandasnya.

Terkait Tag

Terkait Katagori