JATENGEKSPOS.COM – Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Kota Semarang menggelar diskusi publik bertema Sosialisme Islam: Pemikiran HOS Cokroaminoto dan Ali Syariati, Minggu (8/11/2026). Kegiatan yang berlangsung di Kantor DPC PKB Kota Semarang, Jalan Majapahit tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas kader dan pengurus partai melalui pendalaman pemikiran tokoh-tokoh intelektual muslim yang mendorong perubahan sosial dan pembelaan terhadap kelompok tertindas.
Diskusi menghadirkan akademisi UIN Walisongo Semarang Dr H Amin Farih MAg dan Guru Besar Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang Prof Dr H Susetyo Darmanto SE ST MM sebagai narasumber. Turut hadir Ketua Dewan Syuro PKB Kota Semarang KH Sholahuddin Shodaqoh serta Ketua DPC PKB Kota Semarang Ma’ruf bersama jajaran pengurus.
Ketua DPC PKB Kota Semarang, Ma’ruf, menjelaskan bahwa diskusi tersebut merupakan bagian dari agenda nasional PKB yang menindaklanjuti arahan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin. Arahan tersebut disampaikan melalui pertemuan daring pada pekan sebelumnya, yang kemudian ditindaklanjuti dengan agenda diskusi dan bedah pemikiran tokoh-tokoh pembaru Islam.
Menurut Ma’ruf, pemikiran Ali Syariati dan HOS Cokroaminoto memiliki relevansi dengan perjuangan PKB dalam membela masyarakat kecil dan kelompok marginal.
“Kami memandang kedua tokoh tersebut memiliki kesamaan dalam memperjuangkan dan membela kaum lemah. Begitu juga PKB yang memiliki basis massa dari kalangan masyarakat pinggiran. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan semangat pembelaan terhadap kaum marginal,” ujarnya.
Ia berharap pemikiran kedua tokoh tersebut dapat menjadi referensi bagi para pengurus, baik di tingkat anak cabang maupun DPC, untuk memperkuat orientasi perjuangan partai dalam membela masyarakat kelas menengah ke bawah.
“Harapan kami, pemikiran Ali Syariati dapat menjadi referensi bagi teman-teman pengurus dan ketua PAC maupun DPC. Setelah mendalami pemikiran tokoh tersebut, ke depan PKB semakin memperkuat posisi perjuangannya dalam membela masyarakat kelas menengah ke bawah,” katanya.
Ma’ruf yang juga Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Semarang juga menegaskan bahwa PKB saat ini telah berkembang menjadi partai terbuka yang memberikan ruang bagi masyarakat dari berbagai latar belakang, termasuk kalangan non muslim, untuk bergabung dan berkontribusi.
Menurutnya, keterbukaan tersebut menjadi peluang untuk memperluas basis kader dan memperkuat keberagaman di tubuh partai, tanpa meninggalkan akar historis PKB yang lahir dari kalangan ulama dan Nahdlatul Ulama (NU).
Terkait penguatan organisasi, Ma’ruf mengatakan DPC PKB Kota Semarang berencana kembali mengaktifkan kegiatan diskusi dan pengajian secara rutin pada 2027. Agenda tersebut akan dikemas dalam berbagai bentuk, seperti dialog dan forum diskusi bergilir, untuk memperluas wawasan kader sekaligus memperkuat soliditas internal partai.
Sementara itu, Ketua Dewan Syuro PKB Kota Semarang, KH Sholahuddin Shodaqoh, menjelaskan bahwa gagasan sosialisme dalam Islam berakar pada nilai ketauhidan dan ajaran Al-Qur’an serta keteladanan Nabi Muhammad SAW.
Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran sosial di tengah masyarakat melalui pemahaman dan pengamalan ajaran Islam. Menurutnya, nilai-nilai Islam sejatinya tidak hanya dipahami sebagai hubungan personal antara manusia dan Tuhan, tetapi juga harus diwujudkan dalam kehidupan sosial.
Ia juga menyinggung pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang menekankan pentingnya toleransi dan penghormatan terhadap keberagaman. Nilai-nilai tersebut dinilai sejalan dengan semangat kebangsaan yang tercermin dalam Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Sholahuddin menilai berbagai pemikiran dan nilai kebaikan dari beragam latar belakang dapat hidup berdampingan serta memberikan kontribusi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. “Karena itu, menjaga konstitusi dan merawat keberagaman menjadi tanggung jawab bersama,”katanya.
Dalam pemaparan materi, akademisi UIN Walisongo Semarang, Amin Farih, menjelaskan perbedaan pandangan antara Marxisme dan sosialisme Islam yang dikembangkan Ali Syariati.
Menurutnya, Marxisme memandang agama sebagai candu, sejalan dengan kritik Karl Marx terhadap fungsi agama dalam masyarakat. Sementara itu, dalam pemikiran Ali Syariati, sosialisme Islam justru menjadi instrumen pembebasan bagi kelompok tertindas.
Ali Syariati juga memberikan kritik terhadap Marxisme, khususnya kecenderungan totalitarianisme birokrasi partai dan dominasi negara. Melalui pemikirannya, Syariati berupaya menempatkan nilai-nilai Islam sebagai kekuatan pembebasan sosial yang berpihak kepada masyarakat tertindas.
Diskusi tersebut diharapkan tidak hanya memperkaya wawasan intelektual para kader, tetapi juga memperkuat komitmen perjuangan PKB dalam memperjuangkan keadilan sosial, keberagaman, dan kepentingan masyarakat kecil.(rd)











